Sensasi Wisata Cita Rasa Bumi

CP/MelatiCibodas

Salah satu daya tarik, objek wisata Pemandian Air Panas Maribaya, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (17/4). Objek wisata dengan cita rasa bumi ini bisa menjadi alternatif rekreasi akhir pekan Anda bersama keluarga.

Maribaya

Maribaya bukan hanya sekedar nama gadis cantik jelita dari sebuah cerita jaman dahulu kala. Kini, Maribaya merupakan nama sumber air panas belerang yang dapat dipergunakan sebagai pengobatan penyakit kulit dan sejenisnya. Disebut Taman Wisata Maribaya, tempat pariwisata dengan panorama alam yang indah, dan sumber air panas yang memberikan khasiat.

Taman Wisata Maribaya terletak di Kecamatan Lembang yang jaraknya 5 Km dari Lembang timur, dan 22 Km dari pusat Kota Bandung. Dengan keadaan geografis lembah dan temperatur udara yang rata-rata 10-21 derajat Celsius, membuat udara di Maribaya sangat menyegarkan dan sejuk setiap saat. Udara sejuk tersebut sangat cocok dengan sumber air panas belerang yang bersuhu panas kurang lebih 20-40 derajat selsius. Pengunjung bisa menggunakan sumber air panas untuk mandi dan berendam.

Terdapat 2 aliran sungai yang melewati Maribaya, yaitu sungai Cigulung dan Cikawari. Pada kedua aliran sungai tersebut terdapat 3 buah air terjun masing-masing bernama air terjun Cigulung dengan ketinggian Baca lebih lanjut

Tujuh Titik Tahura Djuanda Longsor, Waktu Kunjungan Dibatasi

SOREANG, (PRLM).- Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, menetapkan waktu kunjungan untuk mengantisipasi jatuh korban jiwa pasca peristiwa longsor di tujuh titik objek wisata. Tanah longsor selain di depan Goa Belanda, Desa Ciburial, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung, juga terjadi di area Curug Maribaya, Desa Maribaya, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat.

Kepala Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Ir. Budi Juanda, mengatakan pasca peristiwa tanah longsor yang terjadi di tujuh titik kawasan Tahura Djuanda, Desa Ciburial, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung dan Desa Maribaya Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat, pihaknya terpaksa melakukan berbagai antisipasi untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. “Selain memberikan peringatan pada warga sekitar hutan (Tahura Djuanda), kami selaku pengelola juga terpaksa mengeluarkan batas waktu kunjungan,” ujar Budi, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (24/5) tadi siang.

Dikatakan Budi, pihaknya merasa perlu mengeluarkan peringatan pasca peristiwa tanah longsor selama tiga hari berturut-turut, sejak Kamis (20/5) hingga Sabtu, (22/5). Karena, selain sebagai salah satu objek tujuan wisata hutan di Kota Bandung, Tahura Djuanda juga pada beberapa lokasi dijadikan kawasan bercocok tanam masyarakat sekitar hutan.

Selain itu, menurut Budi, jalan di hutan juga menjadi jalan pintas masyarakat dari Desa Cibodas ataupun Maribaya, Kec. Lembang menuju Kota Bandung atau sebaliknya. “Karenanya kami merasa khawatir sewaktu-waktu peristiwa tanah longsor akan menimpa warga yang sedang beraktivitas,” ujar Budi.

Sementara, untuk menghindarkan korban jiwa dari pengunjung, Tahura Djuanda mengeluarkan batasan jam berkunjung. Pengunjung yang berminat untuk berwisata dibatasi antara pukul 8.00 WIB hingga 16.00 WIB, serta memberikan papan peringatan dan petunjuk. “Tapi tetap saja meski dibatasi ada pengunjung yang memaksa dengan alasan sudah datang jauh-jauh tidak berkeliling Tahura. Terhadap hal ini kami tidak dapat berbuat banyak, hanya dapat memperingatkan mereka untuk berhati-hati dan segera kembali saat hujan turun,” ujar Budi. (A-87/das)***

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/114285

Mata Lensa


Mahasiswa program PAKPM periode April-Mei 2010, Kelompok Melati sedang berkumpul di depan kantor Desa Cibodas usai acara penyambutan oleh Pemerintah Desa Cibodas, (27/3).

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Desa Cibodas, Somawijaya, SH., MH. membuka program Seminar Dan Pelatihan Komputer di Aula SMP 4 Lembang

(17/4).

Pemateri, Andris Yuli Fardani, A.Md, memberikan pelatihan Microsoft Office kepada puluhan peserta program Seminar dan Pelatihan Komputer di Aula SMP 4 Lembang, (17/4).

Panitia program Seminar dan Pelatihan Komputer, Della Mulyanie dan Venny Widiadari sedang memberikan pengarahan kepada peserta di Aula SMP 4 Lembang (18/4).

Dua puluhan siswa SMP 4 Lembang foto bersama dengan panitia program Seminar dan Pelatihan Komputer usai kegiatan di Aula SMP 4 Lembang, (18/4).

Air Terjun Koeang di objek wisata Pemandian Air Panas Maribaya, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, (17/4).

Tim liputan, Citra Ananda dan El Chris Natalia sedang mewawancarai dua wisatawan asing asal Amerika Serikat di objek wisata Pemandian Air Panas Maribaya, (17/4).


Sejumlah pengunjung antusias menikmati liburan akhir pekan mereka di kolam pemandian Cibodas Agrowisata, (4/4).

Salah seorang tim program pengajaran bahasa Inggris, El Chris Natalia memanfaatkan media papan tulis untuk berinteraksi dengan peserta di tempat pengajaran bahasa di Kantor RW 12 Desa Cibodas (11/4).

Sejumlah peserta pengajaran bahasa Inggris terlihat antusias memperhatikan sajian materi dari pengajar di Kantor RW 12 Desa Cibodas (11/4).

Tamu undangan tim pengajaran bahasa Inggris, pengajar asal Kanada, Jeremy sedang memberikan materi di Kantor RW 12 Desa Cibodas, (18/4).

Sejumlah peserta pengajaran bahasa Inggris foto bersama tamu undangan tim pengajaran bahasa Inggris asal Kanada, Jeremy (18/4).

Sebagian panitia penanaman bibit di lahan kritis memperlihatkan bibit yang akan ditanami di Lereng Belakang Pine Forest Camp (2/5) bersama perwakilan Pemerintah Desa Cibodas, Amu. Baca lebih lanjut

Longsor Kembali Usik Cibodas

CP/MelatiCibodas

Rabu, (24/3) hujan deras mengguyur Kampung Cisarongge, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang sejak sore hari. Langit nampak gelap tak bersahabat. Petir menggelegar bersahut-sahutan membelah cakrawala. Ditambah lagi dengan padamnya aliran listrik yang membuat suasana kian mencekam. Namun tak terbesit sedikit pun di benak warga RT.3/RW.4 bahwa akan ada bahaya datang mengancam.

Jarum jam baru saja akan bergerak menuju pukul tujuh malam ketika Ela Hayati (30th) akan beranjak tidur ke peraduan. Tiba-tiba saja terdengar suara bergemuruh dari arah belakang rumah tempat ia tinggal. Bersamaan dengan itu, jeritan kepanikan warga bergema memecah kesunyian.

Tanpa berpikir dua kali, sontak saja Ela langsung menggendong buah hatinya, Indriyani (13th) ke luar rumah. Di luar, suasana kacau balau, warga berbondong-bondong menyelamatkan diri. Belum sempat menghela nafas panjang, ia teringat suaminya yang masih tertidur lelap di dalam rumah. Ia pun Baca lebih lanjut

Yang Seger, Yang Seger

CP/MelatiCibodas

Sejumlah pengunjung sedang menikmati segarnya berenang di kolam pemandian Cibodas Agrowisata (4/4), Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Wisata dengan konsep alam ini sering dipenuhi pengunjung dari luar Desa Cibodas.

PROFIL DESA CIBODAS

Kondisi Geologis dan Geografis

  • Letak dan luas wilayah :

Desa Cibodas terletak di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Luas wilayah desa ini sekitar 1.273,44 Ha, berada pada ketinggian 1260 M di atas permukaan laut. curah hujan 177,5 mm/tahun dengan suhu rata-rata 19 s/d 22°C

Batas –batas wilayah Desa Cibodas adalah:

Sebelah Utara : Desa Wangunharja
Sebelah Selatan : Desa Cimenyan
Sebelah Timur : Desa Suntenjaya
Sebelah Barat : Desa Langensari

  • Topografi dan keadaan tanahnya :

Desa Cibodas, terletak di wilayah yang berbukit-bukit. Secara umum, kondisi tanah desa subur. Penduduk Desa Cibodas sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Lahan pertanian di wilayah desa ini seluas 433,72 ha/m². Sedangkan lahan perkebunan seluas 351 ha/m². Luas lahan yang digunakan sebagai perkantoran sebanyak 0.3 ha/m². Sisa lahan lainnya adalah dipakai sebagai pemukiman seluas 111.5 ha/m², hutan konservasi seluas 32 ha/m², dan prasarana umum lain seluas 0.92 ha/m².

Perhubungan : Jarak dari Desa Cibodas ke ibukota kecamatan adalah 8 Km. Waktu tempuh ke ibukota kecamatan dengan menggunakan kendaraan bermotor adalah 0.5 jam. Kendaraan umum yang tersedia untuk ke ibukota kecamatan ada 29 unit. Selain itu ada juga transportasi berupa ojek sebanyak 6 unit pangkalan ojek.

Tata Pemerintahan

Desa Cibodas terbagi atas Baca lebih lanjut

DESA CIBODAS, KAMPUS PARA PETANI

Sayur-mayur tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di desa berhawa dingin dengan tiupan angin menyejukkan ini, sayur ditanam di mana-mana. Di pekarangan, di samping, dan di belakang rumah, juga di kebun-kebun. Rumah-rumah di desa yang berketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut dengan suhu 18-26 derajat Celsius ini asri.
Sebagian besar rumah penduduknya bagus-bagus dengan dinding tembok dan lantai keramik. Jalan pun beraspal cukup mulus. Di depan jalan utama di Desa Cibodas bahkan ada kolam renang untuk anak-anak berekreasi dan berolahraga. Kolam itu berada dekat lahan pertanian sayur.
Rumah penduduk dengan halaman luas biasanya dihiasi rumput hijau dan bunga-bunga. Namun, banyak juga yang menjadikan pekarangan rumah sebagai sumber ekonomi, misalnya dengan menanami kaboca (labu jepang), seledri, bawang daun, dan brokoli, atau berbagai bibit sayuran untuk dijual kepada petani di sekitarnya.
Tina (26), seorang ibu rumah tangga, leluasa membantu suaminya menanam bibit cabai di halaman rumah sambil mengurus anaknya yang masih bayi. Di belakang rumahnya, ia juga menanam 30.000 bibit brokoli. Para petani di sekitarnya biasa membeli bibit langsung ke rumahnya dengan harga Rp 30 per kantong (polibag).
Demikian juga dengan Medi Juanda (53), seorang petani. Karena permintaan sayur dari para pedagang tidak bisa dipenuhi hanya dari kebunnya, Medi menggunakan halamannya untuk ditanami seledri dan bawang daun.
Di kebun-kebun tampak aneka warna sayuran. Ada yang ungu, putih, kuning, merah, hijau, oranye, hingga hitam. Seluruh warna begitu menggemaskan, segar, pekat, dan bersinar, menggiurkan untuk disantap. Dari sayur lokal hingga sayur yang bibitnya didatangkan dari Jepang atau Belanda.
Desa ini memproduksi kentang, kubis, brokoli, cabai merah, daun bawang, seledri, dan berbagai jenis tomat. Ada juga paprika belanda yang gemuk dan besar seperti apel. Tumbuh juga berbagai sayuran yang bibitnya dari Jepang, seperti mizuna (daun lobak), syungiku (kenikir), cisito (cabai), piman (paprika jepang yang berbentuk lonjong), kyuri (mentimun), damame (kedelai), satsumaimo (ubi jalar), ingen (buncis), nasubi (terung), gobo (semacam gingseng), kaboca (labu), sironegi (bawang daun), asparagus jepang, dan horenso (bayam).
Hampir seluruh keluarga di desa yang terletak di belakang Taman Wisata Maribaya ini menggantungkan hidup dari pertanian sayur atau hortikultura. Berdasarkan data tahun 2004, dari 8.904 penduduknya, ada 2.464 yang telah memiliki mata pencarian. Sebanyak 1.507 orang dari jumlah penduduk yang telah bekerja adalah petani, terdiri dari 746 petani pemilik lahan dan 761 buruh tani.
Sebagian besar petani mampu mengembangkan pertanian dengan pola modern mengikuti tuntutan teknologi budidaya pertanian. Selain itu, pasar komoditas pertanian di desa ini pun cukup berkembang. Hasil produksi sayur di desa ini dipasarkan ke Singapura, Taiwan, dan dalam waktu dekat akan diekspor ke Korea Selatan. Selain itu, ada petani yang menjualnya ke supermarket di Jakarta, Denpasar, Surabaya, dan Bandung. Sisanya untuk pasar-pasar induk di Jawa Barat dan Jakarta.
Dengan keberhasilan ini, rasanya sulit membayangkan bahwa desa yang dibuka oleh keluarga Eyang Sarja dan Pawira dari Cibeunying, Kota Bandung, tahun 1886 ini akan maju seperti sekarang. Sejak masa penjajahan, masyarakat di desa ini hidup dari pertanian sayur. Hanya saja, sayur yang ditanam waktu itu sebatas ubi jalar, jagung, cabai, kol, dan kentang.
Pada masa kemerdekaan hingga 1980-an, sebagian besar petani menjual produksinya ke pasar-pasar tradisional. Sayur yang akan dijual dimasukkan begitu saja ke dalam karung. Para petani hanya tahu menanam. Mereka lebih sering merugi karena mendapatkan harga sayur yang jatuh di musim panen.

Oleh karena itu, sebagian penduduk kampung tidak bisa hidup sejahtera. Rumah mereka yang berdinding anyaman bambu tampak kumuh dan reot. Penyakit menular menjangkiti penduduk karena lingkungan yang tidak sehat. Kandang ternak menempel langsung pada rumah-rumah penduduk.
Jika malam tiba, penduduk terisolasi karena listrik belum masuk. Listrik baru masuk ke desa itu tahun 1985. Jika turun hujan, jalan tanah yang menurun dan menanjak menjadi licin hingga sulit dilalui kendaraan. Kini jalan sudah beraspal, rumah-rumah sudah memiliki jamban sendiri. Rata-rata petani di desa ini berpenghasilan Rp 2 juta per bulan.
Para petani di desa ini bukan petani biasa. Meski sebagian besar hanya tamat sekolah dasar, mereka cukup percaya diri untuk saling tukar ilmu dengan para pejabat dari berbagai dinas pertanian di Indonesia, mahasiswa, serta petani dari luar negeri, seperti Nigeria dan negara-negara lainnya di Asia.
Setidaknya, desa ini menjadi langganan praktik lapangan dan tempat penelitian bagi orang-orang yang terjun di bidang pertanian hortikultura. Desa Cibodas ibarat kampus bagi para petani. Setiap tahun sekitar 200 tamu datang ke desa ini. Para tamu biasanya menginap sampai tiga hari, bahkan ada yang tinggal menetap sampai enam bulan.
Untuk penginapan dan makan, para tamu tak perlu pusing. Sejumlah warga bersedia memberikan tumpangan untuk menetap dengan tempat tidur dan jadwal makan teratur. Biayanya hanya berkisar Rp 90.000 per orang. Listrik dan air bisa dipakai dengan gratis.
Belajar bertani di desa ini bisa juga gratis, disesuaikan dengan kemampuan mereka yang ingin belajar. Sebab, untuk perorangan ada beberapa petani yang siap menampung dan memberi latihan dengan cara magang di kebunnya.
Ilmu yang bisa diberikan para petani meliputi pemilihan bibit, proses produksi, teknologi budidaya terbaru dan terbaik, pemasaran, pengemasan, hingga lalu lintas ekspor produk pertanian serta analisis usaha tani.
“Tidak perlu takut membagi ilmu. Toh, ilmu pertanian selalu berkembang. Selain itu, petani tidak boleh menyerah, sebab ilmu yang didapat di desa ini mungkin harus mendapat perlakuan yang sedikit berbeda karena kondisi alam yang tidak sama di tempat petani lain.
Justru dengan begitu kami jadi saling bertukar ilmu,” kata Doyo Mulyo Iskandar (38), seorang petani. Mereka belajar dalam program Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S). Program inilah yang memajukan kehidupan pertanian di desa ini. Program ini didirikan dan dikelola Ishak (40), petani sayuran, setelah ia mendapat kesempatan magang mempelajari
pertanian di Jepang.

Oleh : Yenti Aprianti

sumber : Kompas

Tutik Terkena Reruntuhan Tembok

LEMBANG, TRIBUN- Tutik (62), warga RT 05/05, Kampung Andir, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, terluka di bagian kepala dan kaki akibat terkena reruntuhan tembok kamar mandinya. Tembok dari batu bata itu runtuh setelah dihantam longsoran tanah yang berasal dari Bukit Pangjebolan, yang terletak di belakang rumahnya.

Menurut suami korban, Tatang Sutisna, korban terkena reruntuhan saat hendak berwudhu pada Rabu (24/3) sekitar pukul 18.30. “Saya sedang menonton acara televisi, tiba-tiba saja ada suara seperti gemuruh dan langsung merobohkan dinding dapur dan kamar mandi. Untungnya tidak menimbun rumah kami,” ujar Tatang, yang juga sebagai Ketua RT 05 ini saat ditemui, Kamis (25/3).

Ia menambahkan, pada saat kejadian, di rumahnya ada lima orang penghuni, termasuk dengan anak dan cucunya. Istrinya langsung diungsikan ke kediaman kerabat di Desa Pagarwangi, Kecamatan Lembang. Kepalanya harus dijahit akibat kejadian itu. Anak dan cucunya selamat.

Pria berusia 63 tahun ini mengatakan, longsor di Bukit Pangjebolan baru kali ini terjadi. Penyebabnya, bukit itu kini banyak ditanami sayuran, dan sebagian besar permukaan bukit sudah terlihat gundul. “Selain itu, Bukit Babakan, yang letaknya berdampingan dengan Bukit Pangjebolan juga mengancam warga karena sudah ada retakan,” katanya.

Bukit Babakan merupakan bukit yang digunakan bekas penggalian, yang beroperasi sekitar 1971 hingga 1982. Walaupun sudah tidak ada penggalian, tetapi bukit itu sudah nyaris habis dan membahayakan keselamatan warga. Kemarin, beberapa warga juga tampak mengikis puncak bukit, untuk meminimalisir longsor.

Ketua RW 05, Usep Supriatna menyebutkan, dengan adanya longsor itu, sebanyak 40 KK diungsikan.  “Karena permukaan tanah masih bergerak, kita ungsikan juga warga tiga RT, apalagi yang di dekat Bukit Babakan,” ujarnya. Ia juga menambahkan, akibat terjadi longsor ini, tiga rumah rusak parah, dan merusakkan enam kuburan keluarga.

Selain di Desa Gudang Kahuripan, longsor juga terjadi di Desa Cibodas. Masih di kecamatan yang sama. Longsor yang terjadi di RT 03/04, Kampung Cisarongge. Selain merusak delapan rumah warga, longsor ini juga menghancurkan tempat wisata Bougenville.

Menurut Kepala Desa Cibodas, Dindin Sukaya, longsor itu merusakkan arena bermain, seperti flying fox, kolam ikan, dan taman bougenville. “Tidak ada korban. Tetapi sudah ada delapan KK yang kita ungsikan. Mereka harus pindah, karena tidak mungkin tinggal di sana lagi,” ujarnya.

Camat Lembang, Kusnindar menambahkan, semua desa di wilayahnya waspada longsor. Posko bencana pun didirikan di semua desa, untuk mengantisipasi penanganan bencana. “Yang paling utama itu adalah perekonomian masyarakat, seperti produk susu dan sayuran, yang harus tepat waktu didistribusikan,” ujarnya. Untuk membersihkan longsor di jalan, pihaknya berkoordinasi dengan pemadam kebakaran, agar menghilangkan tanah dari jalan dengan air. (zz)

sumber : http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/18215/tutik-terkena-reruntuhan-tembok

Buat website atau blog gratis di WordPress,com.
The Esquire Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.