Longsor Kembali Usik Cibodas

CP/MelatiCibodas

Rabu, (24/3) hujan deras mengguyur Kampung Cisarongge, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang sejak sore hari. Langit nampak gelap tak bersahabat. Petir menggelegar bersahut-sahutan membelah cakrawala. Ditambah lagi dengan padamnya aliran listrik yang membuat suasana kian mencekam. Namun tak terbesit sedikit pun di benak warga RT.3/RW.4 bahwa akan ada bahaya datang mengancam.

Jarum jam baru saja akan bergerak menuju pukul tujuh malam ketika Ela Hayati (30th) akan beranjak tidur ke peraduan. Tiba-tiba saja terdengar suara bergemuruh dari arah belakang rumah tempat ia tinggal. Bersamaan dengan itu, jeritan kepanikan warga bergema memecah kesunyian.

Tanpa berpikir dua kali, sontak saja Ela langsung menggendong buah hatinya, Indriyani (13th) ke luar rumah. Di luar, suasana kacau balau, warga berbondong-bondong menyelamatkan diri. Belum sempat menghela nafas panjang, ia teringat suaminya yang masih tertidur lelap di dalam rumah. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan rasa takut yang bergelayut dalam hatinya.

“Saya langsung gusur suami saya keluar,” katanya. Semula ia mengira sedang terjadi gempa bumi. Ternyata perkiraannya meleset. Bukan gempa bumi yang datang menyambangi, melainkan tanah longsor. Ela tercengang, ia tak sanggup berbuat apa-apa. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya terasa lemas. Ia hanya mampu memandangi halaman belakang rumahnya yang berupa tanah kosong tergerus longsor.

Longsoran tanah meluncur turun dari atas tebing setinggi 75 meter dan menimpa lokasi wisata Lembah Bougenville yang terletak di bawahnya. Selain memporak-porandakan tempat wisata Lembah Bougenville, musibah bencana longsor itu pun mengancam delapan rumah penduduk yang lokasinya berada di sekitar bibir tebing. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.

CP/MelatiCibodas

Kondisi rumah Ela nampak miris berdiri rapuh tepat di bibir jurang. Padahal sebelumnya, posisi rumah miliknya berjarak enam meter dari bibir jurang.

Dengan mata berkaca-kaca ia menuturkan, rumah tersebut ia bangun dengan susah payah bersama suami tercinta. Ia hanyalah seorang ibu rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai kuli. Penghasilan sehari-hari saja sudah sangat pas-pasan. Oleh karena itu, berhasil memiliki rumah sendiri merupakan berkah tersendiri baginya.

“Rumah kami meskipun kecil namun merupakan hasil jerih payah selama bertahun-tahun,” ujarnya dengan suara bergetar menahan tangis. “Rumah itu baru saja selesai dicat ulang dan hutang pun baru lunas. Saya dan keluarga pun baru menempatinya selama satu setengah tahun,” lanjutnya dengan tatapan mata menerawang.

Hingga saat ini ia mengaku masih trauma. Tubuhnya masih bergidik ngeri bila teringat kembali kejadian tersebut. Menurutnya, sang suami pun sampai jatuh sakit dan jadi sering mengigau dalam tidurnya. Ia sendiri sempat tidak nafsu makan sampai empat hari.

Pemerintah Desa Cibodas tak tinggal diam menyaksikan musibah yang menimpa warganya. Mereka langsung bergerak mencari bantuan dana untuk menolong warganya. “Alhamdulillah, banyak yang mau membantu,” ucap Sekretaris Desa Cibodas, Asep Suherman.

Bantuan tersebut antara lain datang dari Kwaran Pramuka Kecamatan Lembang, Tim Gerak PKK Desa Cibodas, dan donatur dari warga Desa Cibodas sendiri. Dana tersebut akan dialokasikan untuk membangun tempat tinggal baru di tempat yang lebih aman bagi warga yang tinggal di sekitar daerah longsor.

“Total ada delapan rumah yang harus dievakuasi. Biaya yang dibutuhkan sekitar 50 juta. Akan tetapi, karena dana yang diperoleh masih minim, maka keluarga dengan kondisi rumah paling membahayakan yang diutamakan,” papar Asep.

Oleh karena itu, pada Minggu, (11/4), 20 orang warga yang tergabung dalam tim sukarela bahu-membahu merobohkan rumah Ela yang kondisinya paling memprihatinkan dengan menggunakan alat-alat pertukangan sederhana seperti linggis, martil, kapak, dan bambu.

Ela berharap, ia dapat segera mendapatkan tempat tinggal baru secepatnya karena semenjak kejadian ia tinggal menumpang di kediaman saudaranya. “Suami saya bersama Pak Lurah sedang mencari lahan kosong untuk membangun tempat tinggal baru kami. Semoga saja saya dapat secepatnya memiliki rumah kembali,” ujarnya penuh harap. Sementara itu, ketika ditemui saat sedang mengawasi jalannya proses perobohan rumah, Kepala Desa Cibodas, Dindin Sukaya memaparkan bahwa warga yang terancam longsor untuk sementara diungsikan ke tempat yang aman. Warga pun selalu ketakutan ketika turun hujan deras.

“Warga tidak mungkin tinggal di kediamannya yang sekarang. Pasalnya, di atas tebing yang longsor sudah terdapat retakan yang cukup panjang,” sahutnya. Untuk mengantisipasi terjadinya musibah serupa, ia menghimbau warganya agar memilih daerah tempat tinggal yang aman sebelum membangun rumah. “Jangan cari rumah dekat daerah longsor,” ucapnya tegas dengan mimik muka serius. (TIM)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

%d blogger menyukai ini: