Maribaya

Maribaya bukan hanya sekedar nama gadis cantik jelita dari sebuah cerita jaman dahulu kala. Kini, Maribaya merupakan nama sumber air panas belerang yang dapat dipergunakan sebagai pengobatan penyakit kulit dan sejenisnya. Disebut Taman Wisata Maribaya, tempat pariwisata dengan panorama alam yang indah, dan sumber air panas yang memberikan khasiat.

Taman Wisata Maribaya terletak di Kecamatan Lembang yang jaraknya 5 Km dari Lembang timur, dan 22 Km dari pusat Kota Bandung. Dengan keadaan geografis lembah dan temperatur udara yang rata-rata 10-21 derajat Celsius, membuat udara di Maribaya sangat menyegarkan dan sejuk setiap saat. Udara sejuk tersebut sangat cocok dengan sumber air panas belerang yang bersuhu panas kurang lebih 20-40 derajat selsius. Pengunjung bisa menggunakan sumber air panas untuk mandi dan berendam.

Terdapat 2 aliran sungai yang melewati Maribaya, yaitu sungai Cigulung dan Cikawari. Pada kedua aliran sungai tersebut terdapat 3 buah air terjun masing-masing bernama air terjun Cigulung dengan ketinggian sekitar 15 meter, air terjun Ciawari dengan ketinggian sekitar 14 meter, dan air terjun Koeang dengan ketinggian sekitar 5 meter.

Dengan kurangnya fasilitas untuk para pengunjung tentu membuat pamor Maribaya yang diambil dari nama seorang gadis cantik menjadi turun. Hal tersebut dikarenakan maraknya tempat wisata di daerah Lembang yang semakin modern.

Maribaya dikelolah oleh Pemerintah Kabupaten Bandung bidang kepariwisataan. Dana untuk perbaikan atau pun pembaharuan fasilitas sulit turun.

H. E. Sehabudin selaku karyawan objek wisata Maribaya, bagian keuangan, menerangkan area permainan anak yang masih sangat sederhana di Maribaya membuat pengunjung yang sering kali membawa anak-anaknya enggan untuk datang kembali. Sementara itu rest area untuk bersantai juga diakui masih kurang. Padahal, hal tersebutlah yang seharusnya diperhatikan agar pengunjung merasa nyaman (17/4).

Promosi yang dilakukan dari pihak dinas pariwisata sendiri kurang baik. Promosi hanya dilakukan lewat brosur dan CD yang disebarkan di beberapa daerah pada saat perayaan tertentu dengan frekuensi yang jarang dan tidak berkesinambungan.

Walau dengan keunggulan panorama yang masih alami, Maribaya perlahan dilupakan oleh masyarakat.

Kisah Pencari Nafkah di Maribaya

Maribaya membawa pengaruh yang luar biasa bagi masyarakat sekitarnya. Maribaya yang dimiliki oleh tiga desa, yaitu; Desa Cibodas, Desa Langangsari, Desa Wangunharja, tentu memiliki kontribusi tersendiri untuk masyarakat sekitar. Para penjual yang berada di Maribaya berasal dari desa setempat.

Penyewa tikar dan penyewa kuda keliling pun berasal dari desa setempat. Banyak suka dan duka yang telah dialami para pencari nafkah di Maribaya. Salah satunya adalah bila pengunjung jarang datang.

“Kalau musim longsor pengunjung suka takut untuk datang,” kata Enok Prodiah (40) yang sudah 8 tahun berjualan makanan di Maribaya (17/4).

Sementara itu Arip (13) yang berpofesi sebagai petani dan penyewa kuda keliling mengaku kesulitan yang ia alami tidak hanya bila penggunjung jarang datang. Pemuda yang biasa datang setiap akhir pekan itu mengaku kesulitan bila kudanya tidak mau jalan. “Kalau kuda nggak mau jalan. Walau udah dipikul juga nggak mau jalan. Lama di jalan jadinya saya, Teh,” ujar Arip dengan wajah polosnya.

Kisah lain berasal dari anak-anak Maribaya. Tujuh orang anak yang menyewakan tikarnya untuk membantu orang tua dan biaya sekolah mereka.
Ketika tim liputan berkunjung ke tempat pariwisata air panas Maribaya saya bertemu dengan mereka. Anak-anak yang menyewakan tikar untuk para wisatawan yang berkunjung.

Ramdan (10) anak laki-laki dengan potongan berponi pada rambutnya langsung menghampiri saya tak lama saya turun dari mobil.

“Mau nyewa tiker, Teh (red-panggilan kepada kakak perempuan dalam budaya Sunda)?” tawarnya dengan dengan lembut dan sopan.

Begitu saya menolaknya, ia kembali menawarkan dengan logat Sundanya yang kental. “Mau ditunjukin, Teh, tempat yang bagus di mana aja?”

Saya hanya bisa tersenyum melihatnya yang tetap gigih menawarkan saya sesuatu yang ia harap juga bisa memberikannya manfaat.

Akhir cerita, saya pun menghampiri mereka dan bercengkrama. Ramdan, Esti (12), Santi (10), Sarah (11), Ramdan (10), Nia (12), Yuni (11), dan Sani (11), mereka adalah anak-anak dari Desa Langensari, Kampung Maribaya. Mereka sekolah di SD desa setempat.

Mereka berjalan kaki dari desanya yang berjarak kurang lebih 5 Km untuk sampai ke Taman Wisata Maribaya. Menyewakan tikar hanya ketika akhir minggu dan ketika tanggal merah.

Pendapatan mereka bila ramai pengunjung hanya mencapai Rp 30.000 bila sedang tidak ada pengunjung mereka pun pulang dengan tangan kosong.

“Untuk bantuin orang tua, Teh, biar nggak nyusahin,” jawab Esti begitu saya menanyakan uang hasil menyewakan tikar mereka gunaakan untuk apa. “Untuk biaya masuk SMP juga, Teh. Kan mahal.”

Orang tua dari ketujuh anak tersebut bekerja menjadi buruh tani atau pedangang kecil. Maka mereka merasa perlu membantu orang tua. Mereka pun mencari nafkah di Maribaya.

Kini, Maribaya telah hilang pamor. Bagaimana kita bisa membantu masyarakat setempat agar Maribaya kembali menarik hati para wisatawan dan memberi keuntungan pada mereka.***

Iklan

2 thoughts on “Maribaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

%d blogger menyukai ini: